Home > Otomotif > The New Bantul Astrea Club

The New Bantul Astrea Club


The New Bantul Astrea Club

Salam hangat buat sodara semua. Mungkin ada yang bertanya kenapa kok postingan kali ini berjudul “The New Bantul Astrea Club”?. Oke coba kita bercerita masalahnya dari awal.

Pertama sekitar 1,5tahun yang lalu Bantul Astrea Club dilanda krisis organisasi, anggota kami terpecah jadi 2 group dimana group 1 mengusung bendera yang slow. Slow disini dengan maksud bahwa kami sebagai club motor tidak 100% mati-matian hidup di club, karena tentunya kita mempunyai urusan dan kegiatan masing-masing dirumah, kantor, sekolahan maupun kampus. Group yang mengusung bendera slow ini berprinsip bahwa club adalah sebagai hobi, hobi disela-sela kesibukan kami. Jadi ketika kami sibuk kuliah ya tentunya harus mentingin kuliahnya, begitu juga yang sekolah maupun kerja juga harus lebih mentingin sekolahnya atau kerjanya, karena itu masa depan kita. Bahkan ketika ada tamu sekalipun kalau dari kami tidak ada yang punya waktu luang tentunya kami akan memberikan alternatif lain misalnya tamu kita persilahkan berkunjung ke club Astrea Jogja saja, karena untuk yang bantul lagi sibuk, misal seperti itu, toh Astrea Jogja juga sodara kami dan juga satu forum di PMHY. Group 1 ini tetap fokus pada club “Astrea”nya. Jadi seperti itu prinsip dari group yang mengusung bendera slow tadi. Oke kita lanjut ke group 2, silahkan baca alinea berikut😉

Group 2 ini mengusung bendera pokoknya jadi mau gak mau kalau ada tamu harus bisa nemenin semua, gimana coba kalau kita sedang ada ujian atau kerjaan kantor menumpuk? otomatis hancur donk, terus siapa yang menjamin kehidupan kami kedepan? Group 2 ini juga cenderung ingin pindah aliran fokus ke club “Grand”, selain itu memang beberapa orang dari group ini cenderung keras orang-orangnya, bahkan ketika saya waktu itu sebagai ketua saya sempat menyodorkan sebuah pilihan, gimana kalau jangan sampai pecah Bantul Astrea Club ini? Oke lah kalau kalian ingin fokus di “Grand” silahkan saja kalian ganti Bantul Astrea Club jadi club “Grand” yang anggota-anggotanya “Grand” semua, nanti biar Bantul Astrea Club saya pakai sendiri untuk Independent. Saya menyodorkan pilihan ini karena kasian para anggota Bantul Astrea Club kalau club ini sampai pecah. Tapi kira-kira apa jawaban yang saya peroleh ketika saya megajukan pilihan ini ke Group 2 tadi?. Coba kita simak baik-baik di alinea berikut😉

Anehnya ketika saya mengajukan pilihan seperti saya ceritakan di alinea diatas, salah satu dedengkot/petinggi group 2 justru ngatain saya kurang lebih seperti ini “kamu tu sebagai pendiri/ketua harusnya jangan malah nglokro/menyerah gitu”, dan masih ada beberapa sms lagi yang justru nadanya tidak mengenakan. Bisa-bisanya dia bilang seperti itu, padahal saya hanya menawarkan jalan tengah saja agar Bantul Astrea Club tidak pecah dan tidak kasian anggota-anggotanya. Tapi apa boleh buat ternyata saran atau pilihan yang saya tawarkan justru mendapat balasan yang kurang mengenakan.

Bantul Astrea Club resmi pecah jadi 2 club yang sama-sama berdiri di bantul. Kami pun sama-sama terdaftar dalam sebuah forum organisasi perkumpulan Club sebantul. Tapi dari peristiwa-peristiwa yang sudah pernah terjadi tentunya kami antara Bantul Astrea Club dan Club pecahanya tetap tidak bisa akur. Bahkan anggota-anggota dari Club pecahan nya Bantul Astrea Club justru kalau ketemu malah seperti menantang dengan mbleyer-mbleyer dibelakang kami atau kadang malah sok-sokan dengan aksi jumping didepan kami. Seebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “Brotherhood” yang selama ini digempor-gemporkan para biker itu? oke kita lanjut ke ceritanya aja ya😉

Bantul Astrea Club dan Club pecahanya terdaftar dalam organisasi perkumpulan Club motor sebantul, tapi kami pun tak bisa akur. Sampai akhirnya kami memutuskan mengundurkan diri dari Organisasi perkumpulan Club motor sebantul ini. Tapi apakah yang kami peroleh? kami justru diusir dari tongkrongan kita. Kami tidak boleh menempati tempat yang biasa kami pakai kopdar/tongkrong/kumpul bersama, dengan alasan yang boleh menempati wilayah itu hanya anggota dari Organisasi perkumpulan Club motor sebantul tadi. Ketika saya adu argument dengan pimpinan Organisasi tadi diapun tak berkutik, yang semula mengatakan kita sama-sama tidak punya hak mengklaim wilayah itu, tapi ketika saya tetap beradu akhirnya dia bilang seperti ini ” ya saya punya hak untuk menyuruh club lain menempati tempat itu” maksudnya adalah bahwa dia berhak menyuruh club lain menempati tempat biasa kita tongkrong dan dia mengusir kami dan meminta kami cari tempat tongkrong yang lain. Hah aneh banget kaya GENK motor saja maen wilayah-wilayahan, maen usir-usiran. Lihat itu diJogja baik yang tergabung dalam Organisasi Paguyuban Motor Honda Yogyakarta (PMHY) maupun yang tidak ya terserah mau tongkrong dimana, tidak ada batasan wilayah yang penting masih dikota Jogja. Demikian juga dengan Jogja Automotive Club (JAC), mereka juga membebaskan anggota-anggotanya untuk tongkrong dimana aja, dan mereka juga tidak membatasi wilayah-wilayahnya. Ini baru patut dicontoh, yang penting kan tetap paseduluran nya. Masa gempar-gempor brotherhood tapi pemikiranya kaya genk motor, malah jadi kesanya seperti anak kecil. Semoga bisa jadi bahan introspeksi diri ya pak :p

Categories: Otomotif
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: