Home > Cerita, memory > Gelar Sarjana Status Pengangguran “Dalam Kisah Mengenang Perjalanan Hidup”

Gelar Sarjana Status Pengangguran “Dalam Kisah Mengenang Perjalanan Hidup”


Sekitar 5 tahun yang lalu aku tidak pernah ada bayangan akan mengenyam pendidikan S1. Selain faktor biaya juga nasib mungkin. Tapi tak pernah disangka 2005 aku harus berhenti kerja karena orang tua memintaku melanjutkan pendidikanku ke jenjang S1. Yah memang tak pernah disangka, hanya berkat bapak ku mendapat lahan parkir, yang ternyata lumayan hasilnya. Sebuah kejutan bagiku, seorang anak lelaki dari keluarga kecil dapat diberi kesempatan mengenyam S1.

Semester demi semester terus berjalan, semua kulalui dengan penuh suka cita, walau terkadang ada sedikit penghambat itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidupku. Tahun pun berganti 27 Mei 2006 gempa mengguncang Jogjakarta, berpusat di kota Bantul, porak poranda termasuk rumah keluargaku. Semua terasa hampa, hidup seperti berputar dari awal. Gempa pun berdampak pada ekonomi keluargaku, setelah rumah hancur, terutama setelah lahan parkir bapaku ku terkena tata kota dan harus digusur. Yah nasib kuliahku pun terganggu. Tapi alhamdulillah aku selalu dapat beasiswa sehingga bisa sedikit meringankan orang tua.

Terus dan terus berlalu skripsi pun tiba, kerja keras dan dana sangat aku butuhkan, yang biasanya aku selalu mikir-mikir kalau meminta uang, kali ini aku tak pernah berpikir tidak enak lagi, prinsiku aku mending banyak minta uang sekarang dari pada nanti aku harus mundur 1 semester. Alhamdulillah dengan penuh keringat dan penuh menguras otak skripsi kelar dengan pendadaran nilai B. Alhamdulillah perjuangan 5 tahun kelar. Wisuda pun aku gapai, anak seorang penjahit mantan tukang parkir mendapat gelar sarjana dan merasakan memakai toga berdiri didepan sang pahlawan Bapak dan Ibu ku.

Satu bulan, dua bulan dan berbulan-bulan waktu berlalu begitu saja, nasib sarjana muda ini masih belum dapat keberuntungan. Dari lamaran-lamaran ke perusahan/kantor swasta sampai lamaran CPNS, tapi nasib belum berpihak. Hingga saat ini 13 Februari 2011 aku masih disini menyandang gelar sarjana dengan status pengangguran. Begitu berat menyandang dua status itu, makin berat lagi ketika ditambah omelan-omelan dari orang tua ku yang tidak mengerti sebenarnya aku ini sedang dalam puncak pemikiran yang sangat tinggi.

Usaha pun terus berjalan, penuh godaan dan penuh halangan, terkadang terlintas ingin menyerah, tapi semua harus kulalui demi masa depan hidupku. Walau saat ini aku sendiri tak tahu harus berbuat apa, bahkan dana pun tak mendukung untuk beraktifitas.

Salam hangat kopi ireng wahai sarjana muda, pertaruhkan harimu saat ini untuk harimu esok. Jangan mneyerah walau penuh rintangan.

*Dalam kisah mengenang perjalanan hidup untuk mengingat bahwa hidup harus terus berjalan*

Categories: Cerita, memory
  1. heraa~
    January 10, 2014 at 6:36 am

    mohon maaf sebelumnya.. sy mw izin.. apa boleh jika saya mengutip tulisan dan nama anda ke salah satu kolom buletin saya? berhubung apa yg anada tulis sangat menarik dan cocok untuk tema buletin saya..

    mhon balasannya^^

    • tasirmugissae
      January 10, 2014 at 4:23 pm

      Buletin apa ya?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: