Home > fiksi, memory > Pagi Ini Masih Gelap

Pagi Ini Masih Gelap


28 Maret 2010

Aku terbangun pagi-pagi namun rintik hujan ini mengusik semangatku untuk bangun. Aku pun tarik selimut dan mencoba tertidur, hingga suara babe dan ibu ku mengejutkanku.
Seperti biasa, bangun tidur nyuci gelas bekas kopi ku semalem, kemudian cuci muka. Cuma yang beda dipagi ini aku tidak bikin kopi seperti biasanya, bukan karena tak ingin tapi karena memang kulihat ditoples persediaan kopi habis. Berasa tak lengkap pagi ini tanpa kopi untuk mengawali hariku.

Hari ini semua orang punya kegiatan sendiri-sendiri, babeku seperti biasa sibuk dengan teman “mbatik” nya (mbatik = bikin batik). Ibuku yang kebetulan hari ini tak pergi aku dengar dia sudah mulai mengayunkan kakinya untuk menjahit pakaian diruangan sebelah. Sedang aku sendiri masih belum pasti, dengan status pengangguran ini membuat pagi menjadi momok tersendiri bagiku, yah momok yang menakutkan, seharian tak tahu harus berbuat apa, dengan gelar sarjana dipundak menambah beban ini semakin berat.

Mungkin kalian berpikir “kenapa kamu gak bantu babe kamu bikin batik aja?”. Yah semua yang dengar keluhanku selalu saja bilang begitu, karena memang mereka tak mengerti seperti apa hidupku ini. Aku yang dari kecil tidak pernah bisa klop dan sepikiran dengan babeku, dan dengan perlakuan kerasnya babeku ke aku membuat aku ini tumbuh dengan jiwa sedikit keras, jiwa yang selalu mencari kebebasan, tidak ingin diusik, dan mencoba merevolusi ini semua. Dan disaat aku yang mulai tak kuat dengan keadaanku ini, beberapa temanku masih belum bisa percaya dengan keadaanku ini, bahwa ini sudah akut, aku sudah tak kuat terus hidup seperti ini, ingin pergi tapi tak ada modal, ingin kerja tapi entah kenapa dari berapa banyak lamaranku belum ada yang membuahkan hasil. Dan kali ini sudah terlalu mengusik pikiranku, hingga aku tak kuat untuk menahanya.

Aku berharap hari ini atau esok aku cepat mendapatkan jalan keluar, aku butuh bantuan kalian, aku bisa gila seperti ini terus, hidup bersama orang yang tak pernah sepikiran dalam satu rumah dan selalu ribut. Tolong aku Tuhan. BKF

Cerita dialami oleh orang yang menamakan “aku” dengan penuh derita dia bercerita.

Categories: fiksi, memory
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: