Home > Cerita, memory > Ibu Aku Ingin Seperti Mereka

Ibu Aku Ingin Seperti Mereka


Pagi ini bangun penuh dengan sebuah perasaan tak enak. Ya seperti biasa, apa lagi kalau bukan masalah keluarga. Aku.. ya sebut saja aku dalam cerita ini adalah seorang anak dalam keluarga kecil disudut kota terpencil di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku lahir di sebuah keluarga yang kurang mampu, dengan keadaan yang pas-pasan. Orang tuaku yang hanya seorang buruh biasa tak mendukung untuk hidup lebih layak dari pada keadaan sekarang. Hanya sebagai penjual dawet yang dijajakan ke sawah kepada para petani, berharap mereka membeli meski tak jarang juga harus mendapat kecewa karena tak kunjung laku daganganya.
Malam itu aku dan kakakku makan nasi bersama lauk seadanya, nasi yang sedikit membuat orang tuaku harus sering mengalah dengan harapan anaknya tumbuh lebih baik. Dan sampai tumbuh besar aku baru tahu kalau malam tiba disaat orang tuaku dulu lapar karena mengalah dengan anaknya, mereka keluar dan mengambil ketela pohon kemudian mereka masak untuk menghilangkan rasa laparnya. Terbayangkan seperti apa mereka waktu itu? Ya karena dengan makan ketela itu merupakan cara satu-satunya, karena esoknya pun kami belum tahu hendak makan apa.
Aku tumbuh dan tumbuh dan aku pun masuk Sekolah Dasar. Masa-masa kecil yang harusnya aku nikmati bersama teman sepermainan. Tapi tidak bagiku, keadaan orang tuaku yang sangat pas-pasan membuatku harus selalu tersingkir. Pakaian seragamku yang mulai lusuh ini sering membuat jarak antara aku dan teman-temanku. Dan masih banyak yang aku tak punya. Bahkan ketika kami harus jajan bersama, bekalku yang hanya 100 rupiah begitu jauh dibanding dengan teman-teman yang saat itu sudah terbiasa membawa uang 500-1000 rupiah. Kalau orang dewasa mungkin bisa dibilangin “syukuri yang sudah ada, niscaya kamu akan lebih tenang”. Tapi aku hanyalah seorang anak kecil yang belum tahu apa, tahuku hanya menuntut kepada orang tua. Mengeluh kenapa aku tak sepadan dengan teman-temanku, kenapa aku beda dengan mereka bapak? Kenapa ibuk? Kenapa aku tidak bisa punya mainan sebagus punya teman-temanku? Kenapa aku tidak bisa punya uang saku yang lebih? Kira-kira seperti itu rengekan-rengekanku saat itu. Bahkan pernah suatu ketika aku mencuri jajanan, karena uang saku ku hanya cukup untuk beli 1 permen, aku pun mengambil beberapa permen dengan hanya membayar 1 permen. Masa kecil yang kurang bahagia, mungkin tepatnya seperti itu.
Orang tuaku hebat, dengan penuh keterbatasan mereka tetap berjuang demi aku. Hingga aku masuk sebuah perguruan tinggi swasta di kota Jogja, ya Jogja yang konon katanya kota berhati nyaman dengan berbagai keistimewaanya. Aku mulai tumbuh dewasa, mulai bisa menerima semua kekurangan ini, walau terkadang ingin lebih, itu normal sebagai manusia. Semester pertama berlanjut semester semester berikutnya orang tuaku masih “mampu” (baca: bisa dengan berbagai pinjaman hutang sana sini) hingga suatu ketika orang tuaku benar-benar tak mampu, mereka pun memutuskan menjual sebidang tanah untuk membayar hutang dan demi membiayai agar kuliahku terus berjalan. Itu pun tanpa sepengetahuanku hingga suatu saat aku mengetahuinya tanpa sengaja. Mereka hanya bilang, “ini demi kamu nak agar kuliahmu terus berjalan, demi masa depanmu agar hidupmu lebih baik dibanding aku (ibu) dan bapakmu”.
Akhir tahun 2010 aku memperoleh gelar Sarjana, aku diwisuda bersama teman-teman seperjuanganku, baru kali itu aku merasa aku sama dengan teman-temanku, bahkan terkadang aku merasa lebih, karena sebagian temanku masih banyak yang belum diwisuda. Ternyata dengan semua kekurangan ini aku mampu untuk melangkah, walau mungkin pelan tapi aku yakin bisa. Saat itu orang tuaku pun menghadiri wisudaku, dengan penuh rasa bangga melihat anak kesayanganya memakai toga, air mata ibu pun tak tertahankan, menetes melihatku dengan baju wisuda dan toga ini. Aku hanya berkata “ini semua untuk kalian, untuk ibu untuk ibu untuk ibu dan untuk bapak”. Kami pun mengakhiri acar wisuda itu dengan foto bersama, dengan teman-temanku juga tentunya, yang tanpa teman-temanku mungkin aku juga tidak bisa melangkah sampai disini. Terimakasih buat kalian teman-teman sejatiku.

Bersambung – Masa mencari kerja dan membalas perjuangan orang tua.

Categories: Cerita, memory
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: