Home > memory > Jejak Langkah Orang Pinggiran

Jejak Langkah Orang Pinggiran


Hidup disudut kota Jogja bersama kedua orang tuaku. Anak terakhir yang selalu diharapkan oleh kedua orang tua. Dari kecil benar salah aku selalu mengikuti apa kata babe ku. Walau tak jarang itu semua kulakukan karena terpaksa.

Waktu berganti, masa SMA berlalu begitu saja tak terasa, niat mau masuk perguruan tinggi harus aku urungkan karena babe tak mempunyai dana untuk itu. Bukan penyemangat yang aku peroleh, namun justru penghakiman atas semua yang pernah terjadi. Aku putuskan kerja, mencoba berjalan dijalanku sendiri, back to the floor tiap pagi, bersama “orang hebat” yang waktu itu aku tak pernah tahu jati dirinya. Bahkan hingga saat ini masih banyak misteri tersimpan didirinya. Hingga suatu ketika dia harus cabut atas ketidak pastian ditempat kerja kami. Salam damai untukmu wahai brotha.

Setahun kurang lebihnya pekerjaan di tempat itu aku jalani. Tiba-tiba babeku dapat pekerjaan baru yang membuatnya berpikir untuk menyuruhku lanjut ke perguruan tinggi. Tak segampang itu mulanya, aku babe harus adu argumen sana-sini. Dan akhirnya kesepakatan aku putuskan keluar kerja dan lanjut perguruan tinggi. Berasal dari keluarga berpendidikan rendah, aku pun tak memperoleh masukan-masukan harus masuk fakultas apa dan jurusan apa. Hanya berbekal tekad dan nekat aku harus putuskan semuanya sendiri, termasuk tanggungjawab dibalik itu semua.

Kuliah terlampaui setengah jalan, muncul kecemasan akan kemampuanku menjalani materi-materi yang diberikan. Diluar bayangan yang aku pikirkan, bingung dan takut aku tak mampu menyelesaikanya. Niat pindah aku urungkan karena kasihan. Berbekal nekat aku libas habis asal cepat lulus dengan berbagai trik intrik.

Wisuda, gelar sarjana aku peroleh. Orangtua bangga melihatku memakai toga waktu itu. Air mata Ibu tak tertahankan, menetes bahagia dan lega melihat kelulusanku. Subkhanallah lima tahun sudah aku bergelut dengan buku.

Orangtua ku, babe yang cenderung memiliki garis keras selalu mencoba mengarahkanku ke berbagai pilihanya, yang sampai saat ini setelah setahun berlalu tak ada satupun yang aku tekuni. Bukan karena pilihanya jelek, tapi karena perbedaan pemikiran diantara kita yang selama ini selalu menjauhkan aku dan babeku. Aku pun punya cita dan konsep sendiri untuk kedepanku, meski masih tak jelas. Tapi aku ingin bisa membuktikan itu semua, bahwa aku bisa berhasil dibidang itu, karena bidang itu rejeki murni dari Alloh, bukan manusia sebagai penentuku.

Sidang, setahun tak jelas nasib dan tujuanku. Aku pun disidang sama babe. Dengan berbagai penghakimanya, aku serba tersudutkan meski tak semua aku yang salah. Aku juga telah berusaha sebisaku, aku pasrahkan hasilnya pada pemilik hidup matiku. Tapi mungkin karena aku tak bersegera bangun, mendesain dan membangun masa depanku. Lelah capek dan tak tahu harus berbuat apa selain usaha dan doa. Sekarang aku mencoba mengumpulkan tekad, kalau memang harus merantau jauh, mungkin tak apa mumpung masih sendiri sekalian mencari modal hidup. Mungkin jatahku bukan disini, tapi siapalah aku biarkan Tuhanku yang menentukan.

Memberikan kemudahan pada urusan orang lain, memberikan kebahagiaan pada yang membutuhkan, semoga orang lainpun memberikan itu semua kepadaku. Terutama Kau Tuhanku tempatku berkeluh kesah, merengek dan memohon apapun. Thanks God, thank you for being there when no one else was.

Didedikasihan untuk sahabat and all my brotha. Keep spirit and I love you all. Hahahay..

Categories: memory
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: