Home > Cerita, Cinta, fiksi > Sejauh Mana Kamu Mencintai Pasanganmu?

Sejauh Mana Kamu Mencintai Pasanganmu?


Konon hidup sepasang kekasih yang saling mencintai disalah satu sudut kota Joghja.

Sebut saja aku. Aku punya pacar yang sangat menyayangiku. Kami pun sudah lama menajalin hubungan ini. Kami juga sudah berencana untuk menikah.

Aku dan pacarku selalu saling mengerti. Seperti pacarku tahu, aku punya handphone kesayangan pemberian almarhum kakek ku. Pacarku tahu aku sangat menyayangi handphone ini, hingga aku pun tak mau menjualnya. Demikian juga dengan pacarku, dia punya rambut kesayangan, baginya rambutnya adalah salah satu hartanya, karena menurutnya rambut adalah mahkota seorang perempuan. Pacarku selalu merawat rambut kesayanganya itu, yang konon dia tak akan pernah memotongnya pendek. Aku pun sangat mengagumi rambutnya itu, itu yang membuatku dulu terpesona wajahnya yang manis dengan rambut lurusnya yang indah.

Kami saling menyayangi meskipun kami hanya sesama dari keluarga tak mampu. Suatu hari tibalah hari jadi kami. Kami saling ingin memberi hadiah spesial. Kami kerja ditempat berbeda, ketika aku pulang aku pun tak langsung pulang, aku mampir ke toko dulu untuk menjual handphoneku, karena ini satu-satunya barang berharga yang aku punya. Dan kado yang akan kubeli untuk pacarku begitu mahal, aku pun merelakan handphoneku demi calon istriku. Begitu juga dengan pacarku, sepulang kerja dia pun tak langsung menuju rumah, dia pergi ke salah satu salon terkenal di kota Jogja, dia berencana untuk menjual rambutnya, karena konon diluar negeri rambur asli yang terawat sangat mahal harganya, biasa dijadikan wig disana. Pacarku berniat membeli sarung handphone berbalut emas dengan uang hasilnya menjual rambut.

Aku tiba duluan dirumah, aku siapkan kado buatnya. Begitu pacarku sampai kerumah aku kaget, kenapa ayank potong pendek? Kemana rambut kamu sayang? Aku sangat menyesali rambutnya. Dan dia hanya tersenyum dan dengan penuh kasih sayang dia berkata, “aku menjual rambutku agar aku bisa memberimu kado spesial buat kamu sayang”, sembari menyerahkan kado hari jadi kami ke aku. Ketika aku buka, aku menangis dan tersenyum, pacarku hanya berkata “kenapa ayank menangis? Bukankah sarung handphone itu bagus dan cocok untuk handphone kesayanganmu itu?” Iya bagus jawabku sambil tersedu. Tapi aku baru saja menjual handphoneku, aku menjualnya karena ingin memberimu hadian spesial buat kamu sayang. Dan hadiah yang aku belikan buatnya adalah jepit rambut berbalut emas.

Intinya kita tidak akan pernah mampu mengukur cinta pasangan kita terhadap kita. Kita memberikan mereka cinta yang kita kira sudah besar. Dan yakinlah ketika kita memberikan cinta yang sangat besar, kita akan memperoleh juga yang sangat besar.

Follow @tasirmugissae

Categories: Cerita, Cinta, fiksi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: