Home > Cerita, fiksi > Embisil

Embisil


Sebuah band bernama embisil. Band kecil yang aku buat bersama sahabatku. Drum, guitar melodi, guitar akustik, serta bass. Memulai dari awal masa SMA. Gara-gara sama suka maen alat musik, kami pun sepakat bikin band ini. Dan nama embisil diambil dari sebutan nama kelas kami dulu.

Waktu demi waktu kami selalu semangat latihan, walau minim perlengkapan, dan hanya bisa sewa studio musik seminggu sekali. Tapi itu cukup memuaskan bagi kami. Exacly, karena dengan itu emosi kami tersalurkan. Masalah-masalah yang kami punya terkadang hilang dengan gila-gilaan main musik.

Sahabatku mencoba membuat lagunya sendiri, yang sesuai dengan kehidupannya. Aku sangat bisa mengerti itu, mungkin karena dia selalu tertekan dengan keluarga. Sebuah lagu yang bercerita tentang kesedihan kehidupannya kita coba untuk mainkan. Aku lihat tiap kali dia memainkan lagu ini, emosinya benar meledak, hingga terkadang dia terlihat menahan tangis.

Suatu hari, sahabtku ditinggal pergi pacarnya. Pacarnya yang berpamitan pulang mudik ternyata menjadi akhir pertemuan mereka. Pesawat yang ditumpanginya terjatuh dan semua penumpangnya dikabarkan meninggal dunia. Lebih menyedihkan lagi mayat pacar sahabatku hingga sekarang tak diketemukan. Aku melihat sahabatku begitu terpukul, terlihat shock berat. Dia hanya sering menyendiri dalam kesehariannya. Dia hanya habiskan waktunya untuk menyendiri. Sesekali aku tengok ke kostnya, aku lihat botol minuman dan puntung rokok berserakan disetiap sudut kamarnya, dan dia hanya duduk diam didekat jendela.

Hari itu kami ada jadwal manggung di sebuah pesta perpisahan sekolahan lain. Kami rencananya membawakan beberapa lagu yang salah satunya adalah ciptaan sahabatku. Tapi begitu sangat terkejutnya kami, ketika kami menghampiri sahabatku kekostnya, dia tlah tergeletak tak bernyawa. Dia overdosis dan meninggal dikamarnya. Ada sebuah pesan yang dia tinggal dimejanya, dia berkata “Aku sangat mencintai keluargaku, tapi aku tak pernah mengerti apa yang terjadi dengan keluargaku, tiada hari tanpa pertengkaran antara ayah dan ibuku. Ibuku sering mendapat perlakuan kasar dari ayahku, demikian juga denganku. Dan dia pacarku, dulu dia satu-satunya orang yang bisa mengerti aku dikala aku benar butuh dukungan. Tapi dia pergi meninggalkanku, aku merasa tak punya harapan lagi, hari-hariku buruk, aku tak kuat menahan semua ini. Dan kalian sahabatku, maaf aku tak bisa melanjutkan permainan band kita, aku tak kuat terus begini. Maafkan aku tak berbagi kepada kalian, aku tahu kalian sudah cukup bermasalah dengan kehidupan kalian, aku tak mau menambah rumit kehidupan kalian. Sekali lagi maafkan aku. Aku titip ‘Life Never Ending'”.

Secarik pesan yang pernah ditulis sahabtku manjadi gebrakan buat kami. Aku dan dua sahabatku yang lain memutuskan untuk melanjutkan band ini tanpanya. Kami ingin dia bangga disana melihat kami berhasil melanjutkan cita-citanya dulu. Dan lagu karyanya selalu kami nyanyikan dalam tiap penampilan kami. Hingga terakhir kami membawakannya dalam sebuah acara reuni sekolah, semua teman-teman terlihat haru mendengar lagu ini, karena mereka tahu ini lagu ciptaannya. Dan kini lagu ini telah didengar jutaan manusia, karena embisil telah menjadi band papan atas, berkat usaha, doa, dan semangatmu. Semoga kau mendapat tempat yang layak disana. You’re always be my best friends forever. This your song “Life Never Ending”.

Ganbate (҂’̀⌣’́)9

Categories: Cerita, fiksi
  1. July 30, 2012 at 7:44 am

    sangat mengesakan sekali gan,,🙂

    • noetasir
      July 30, 2012 at 9:07 am

      Terimakasih mas..😉

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: