Home > Cerita, fiksi > Papa Tercinta

Papa Tercinta


Always, everyday I wake up early, untuk papa ku pastinya. Subuh aku harus uda bangun, sholat kemudian nyiapin sarapan pagi buat aku dan papa tercintaku. Kami cuma tinggal berdua, karena ibu pergi meninggalkan kami sejak papa diserang penyakit aneh. Yah papa tiba-tiba tak bisa mendengar dan juga bicara. Exacly its very difficult for me.

Tepat jam enam pagi, makanan sudah siap. Aku ajak papa ke meja makan dan makan bersama. Always silent, yah pastinya aku hanya bisa melihat papa menikmati sarapan paginya, tanpa sepatah katapun. Setelah makan aku pun bergegas berangkat kuliah. Ini yang harus aku jalani, setelah kepergian ibu aku harus bantu papa mencari uang untuk biaya hidup dan kuliahku.

Ketika teman-teman sebayaku selesai kuliah hang out bareng teman, tidak demikian denganku. Aku harus segera bergegas ketempat kerja, kerja parttime tentunya disebuah toko buku yang tak jauh dari kampus. Disini lah ditempat kerjaku aku sering mendapatkan semangat baru, sambil jaga toko aku biasa membaca buku-buku, dan banyak yang bisa aku pelajari, seperti kata Walt Disney “You can dream it, you can do it.” Yah itu yang membuatku tambah semangat menjalani hidup ini berdua sama papa tercintaku.

Hari-hari semakin berat ketika penyakit papa semakin menggila, papa lumpuh, papa tak bisa berjalan lagi. Lengkap sudah penderitaan papa, dan aku sebagai satu-satunya yang harus tetap mensupport papa, merawat papa, karena kalau bukan aku siapa lagi. Aku tak mau menjadi pecundang seperti ibu yang pergi begitu saja meninggalkan kami. Its more complicated now, and sometime I feel so down, sometime I tought “can I change this life?”. I know who am I, I’m just ordinary girl, exacly with a lot of problem in my life.

Okay, now the first day we’ve fasting, happy fasting everybody. Dan ini menjadi bulan penuh hikmah dan pelajaran bagi kami. Dan menjadi hari yang berat buatku. Yang sering membuatku mengerti hidup, mengerti about care another. Apa lagi ketika aku harus mebantu papa membersihkan diri, aku benar-benar menahan air mata. Orang yang dulu memperjuangkan hidup dan matinya untuk ku, sekarang dia lemah tak berdaya. Aku hanya berusaha untuk tetap memperhatikannya dan merawatnya.

Tak terasa sebulan berlalu, esok idul fitri telah tiba. Semoga sanak sodara pada berkumpul. Tring tring tring…. Bunyi telpon rumah berdering. Telpon dari keluarga papa menelpon bahwa esok mereka akan tiba. Senang rasanya ketika keluarga papa yang jauh-jauh mau datang berkumpul bersama.

Pagi itu kami sholat ied bersama, selesainya kami pun berkumpul dirumah berbagi cerita. Senang melihat papa tersenyum, lama aku tak melihat senyuman itu dari wajah papa ku tercinta.

Dan untuk terakhir, semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang membaca, bahwa terkadang hidup ini sulit, bahkan terasa sangat lebih sulit. Tapi yang terpenting jangan pernah lari dari cobaan itu, karena jika kita ingin menggapai hidup yang lebih baik, kita harus melalui tahap-tahap itu. Demikian juga dengan ku, seberat apapun aku coba tetep tersenyum dan berusaha. kalau bukan aku siapa lagi, aku harapan satu-satunya papa ku. Terimakasih Tuhan untuk kekuatan yang kau berikan untuk kami. Aku harap Engkau selalu bersama kami. Thank a lot God.

Mohon tinggalkan komentar jika membaca artikel ku ini. Terimakasih.

Categories: Cerita, fiksi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: