Home > Cerita, Cinta, fiksi > I In The Love

I In The Love


Long time ago saat aku masih duduk di semester tiga. Aku mengenal sesok cewek cantik yang senyumnya selalu menggoda setiap lelaki. Ya pastinya karena teman-temanku pun banyak yang naksir sama dia. Sebut saja namanya iin, ya iin adalah gadis manis simple tapi fashionable. Pertama aku mengenalnya karena beberapa temanku sering membicarakannya, nah suatu ketika pas aku maen di kost teman, kebetulan iin juga pas datang maen kesana. Disitulah aku dikenalkan sama temanku.

Hmmm exacly I’m melting, senyumnya dia benar menggoda hati. Pantas temanku banyak yang naksir sama dia. Tapi kemudian aku tahu bahwa ternyata iin adalah ceweknya temanku juga, sebut saja Teo namanya. Sayangnya Teo adalah sahabatku sendiri, aku pun mencoba untuk menjaga persahabatan ini.

Suatu ketika perkenalanku dengan iin berlanjut, karena ternyata dia dulu juga sudah sering mendengar namaku dari teman-temanku juga. Aku sering sms an sama dia, meski jarang ketemu ya sekedar sms an aja. Iin sering cerita berbagai hal, tentang masalahnya dengan cowoknya si Teo atau cerita tentang sahabatku lain yang juga ternyata pendekatan sama iin. Hmmm cowok satu ini sebut saja namanya Ardi. Ardi adalah temanku juga, dia pun yang memperkenalkanku ke iin. Aku baru tahu dari iin juga kalau ternyata Ardi juga suka sama iin, bahkan kadang kalau iin pas maen ke kostnya, ketika iin curhat-curhat ke Ardi, Ardi sering membelai-belai rambutnya. Hwaaaaa sepertinya jurus harimau menerkam ini, heheheee..

Komunikasiku dengan iin terus berlanjut, sepertinya dia pun nyaman dengan perilakuku. Hampir tiap kali dia mengeluh adalah karena cowoknya Teo sering berlaku yang kurang sopan, biasa orang pacaran ada yang minta “ini itu”. Lebih hebohnya lagi ketika aku mendengar dari seorang temanku bahwa Teo cerita-cerita hal-hal tidak sopan tentang iin ceweknya dia sendiri. Aku yang mendengar itu, dan karena aku care sama iin, aku pun mencoba membuktikan kebenaran berita itu ke iin. Tapi apa yang aku peroleh, iin sontak kaget karena dia merasa tak pernah melakukan itu. Ya namanya aku juga lagi dekat, aku sih percaya aja kala itu.

Suatu hari pas kebetulan aku mampir ke kost iin, pas ingin mengonfirmasi berita tak enak tadi, ternyata Teo sudah ada di kost iin, dan iin terlanjur cerita banyak tentang berita gosip yang beredar. Teo marah besar, dia pun marah sama aku karena aku yang pertama memberitahu iin tentang berita itu. Oh God, aku udah yakin pasti hancur persahabatanku dengan Teo. Terang saja Teo marah besar karena berita itu menghancurkan hubungannya dengan iin. Setelah peristiwa itu aku jadi jauh sama Teo. Sedang iin lambat laun jadi dekat denganku, sampai akhirnya kita jadian. Aku masih tak mengerti apakah ini termasuk penghianatan persahabatan? Meski ini semua bukan salahku secara keseluruhan.

Hubunganku dengan iin berlanjut, awalnya hubungan kami begitu indah, penuh dengan suka ceria. Hari terasa cepat berlalu, susah senang semua menjadi indah dengan kebersamaan kami. Sayang suatu ketika iin mulai goyah, dia dekat dengan cowok lain yang kebetulan adalah orang yang satu jurusan sama aku dikampus. Hubungan itu sepertinya semakin berlanjut, hingga suatu ketika aku memergoki mereka sedang jalan bareng. Hmmmm masalah ini tak bisa aku atasi, urusan hati mana bisa dipaksa, seperti dulu ketia iin mulai membenci Teo. Berbagai cara aku coba agar kami bisa damai, tapi gagal total. Dan sampai suatu waktu kami resmi putus. Semenjak itu aku pun masih menerima kabar dari berbagai teman iin maupun temanku yang lain. Bahkan cowok barunya yang sering satu kelas sama aku, dia banyak bercerita tentang hubunganya dengan iin. Akhirnya pun aku tahu jati diri iin, yah ketika aku putus denganya memang benar Tuhan sedang menjauhkanku dari orang yang tidak tepat buatku. Sekarang aku menyadari semua itu, cuma yang masih selalu menjadi pikiranku, apakah sahabatku Teo pernah mengerti bahwa posisiku waktu itu bukan kesengajaan aku menghianatinya, bahkan malah tidak ada maksud ke arah situ. Meski kami, aku dan Teo saat ini sudah baikan seperti dulu, tapi aku masih selalu merasa tidak enak akan peristiwa dulu itu, karena aku yakin dia tak pernah mengerti cerita sesungguhnya.

Buat iin makasih atas pelajaran hidup yang pernah kamu beri, terimakasih atas sekian waktu kamu menghiasi hariku, meski kini aku tahu kamu bukan salah satu bintang dilangit. Buat Teo maaf ya, waktu itu benar bukan kesengajaan, tapi karena memang kita seperti di adu domba oleh bidadari dari langit yang membutakan mata kita bersama.

Poinya adalah bahwa kita tak pernah lepas dari cobaan, bisa cobaan dalam bentuk kesusahan atau keenakan. Dan sayangnya hampir tiap manusia tak menyadari ketika sedang memperoleh cobaan dalam bentuk keenakan atau kenikmatan hidup.

Cinta dengan begitu banyaknya devinisi tentang cinta, hampir semua tentang keindahan, tapi selalu ada hal buruk ditiap ada hal baik. Bukankah semua diciptakan sepasang? Keindahan cinta mampu menciptakan keburukan yang lebih besar. Karena cinta I lost my best friends.

End

Categories: Cerita, Cinta, fiksi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: