Home > Cerita, fiksi, Motivasi > Back To The Floor

Back To The Floor


Dahulu selepas lulus SMA, aku adalah anak kampung korban kearoganan dan keotoriteran. Baginya aku berbuat apapun, salah atau pun benar itu tak ada bedanya. Pertengkaran sengit waktu itu masih menjadi cerita perjalanan yang tak terlupakan.

Dulu aku hanya tahu bahwa aku harus terus menaiki tiap anak tangga ini satu per satu. Cuma waktu itu aku harus rela berhenti disalah satu anak tangga. Setelah lulus SMA aku putuskan berkerja karena pengajuan keinginan kuliah ditolak oleh bos besar.

Sebut saja swalayan P, yah itulah tempat pertama aku mengenal dunia kerja, tempat aku mengenal dan belajar betapa sulitnya mencari uang. “Berangkat kerja pagi-pagi, pulang larut malam, gaji pas-pasan”. Kalimat itu sudah seperti slogan buat kami. Masuk pagi mengepel lantai, menyapu, atau membersihkan dagangan itu sudah rutinitas tiap hari. Aku mencoba selalu menikmati itu, mencoba memposisikan menjadi pelayan itu seperti apa. Ada beberapa yang memandang orang seperti kami ini adalah orang yang menarik, mencoba selalu tersenyum walaupun kadang hati sedang menangis. Bagi beberapa orang lagi kami hanyalah kacung pelayan orang bawah bak sepah yang harusnya terbuang. Dipandang sebelah mata atau dengan mata peremehan itu sering aku alami.

Lambat laun aku sadar bahwa aku tak seharusnya berhenti terus menerus disalah satu anak tangga ini. Aku pun mulai menaiki tangga demi tangga. Menjadi juru parkir mencari biaya untuk kuliah, pikirku dengan kuliah aku akan mendapat pekerjaan yang lebih layak, yang tak akan diremehkan orang lain lagi. Seharian kuliah, sore sampai malam jadi tukang parkir, makan nasi sehari sekali, demi kuliah harus terus berjalan. Dasar orang kampung, otak pas-pasan. Lulus kuliah hanya asal lulus aja, sarjana muda status pengangguran, rasanya ini lebih parah daripada sekitar 7tahun yang lalu sewaktu aku menjadi pelayan. Kali ini kerjaan lebih keren dari pelayan, jadi tukang gambar atau bisa disebut designer. Tapi dirumah sendiri bantuin orangtua, terus kenapa lebih parah? Karena title sarjana komputer dan bekerja dirumah sendiri. Selama ini aku tak mampu mewujudkan bahwa aku mampu memperoleh pekerjaan pantas itu, yang 7tahun yang lalu aku impikan.

Ini sudah masuk tahun ke tiga aku hanya dirumah saja. Hey man, do you know my feeling right now? Its so hard for me, life with my title and my situation right now. Meski aku bekerja membatu orangtua, bukankah ini sama saja dengan pengangguran? Aku hanya selalu mengandalkan mereka, mengharap uang mereka, bahkan makan dan tinggal masih terus bersamanya. Belum keotoriterannya, memang tak pernah ada yang mengerti situasiku. Mungkin hanya aku dan ibuku. Dulu aku sering berbagi keluh kesah sama sahabatku, tapi aku mulai jarang lakukan itu, karena sebagian justru menilaiku buruk dan bahkan memakiku.

Sekarang aku mengerti siapa yang benar sahabatku. “You know? We not need a lot of friends, we just need a true friend.” And maybe you should thinking about this quote “Education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.”

Pernahkah kalian berpikir, kita dilahirkan di kota ini, terserah kota apa kalian dilahirkan. Pernah kalian berpikir kita lahir disini, besar disini, dan mati pula disini. Sedangkan lihatlah dunia begitu luas, diluar sana ada Italy, Prancis, Jepang, Korea, Thailand, dan masih banyak belahan dunia lain. Rasanya terlalu berharga jika hidup ini hanya dibuang dalam satu tempat. Bukankah kita punya cita-cita? Aku yakin kalian pun ingin mewujudkan cita-cita kalian. Dan ingat “Kita tidak akan bisa menyeberangi lautan hanya dengan berdiri dan memandanginya saja.” Kalian pasti ngerti apa maksud paragraf ini. Goodluck guys.

Kita berhasil menaiki tiap anak tangga jika kita telah berada di tempat lain. Jika kamu masih disitu-situ saja, berarti kamu belum mendapat kemajuan apa-apa. Always according to Walt Disney “We can dream it, We can do it.”

Categories: Cerita, fiksi, Motivasi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: