Home > Cerita, memory > Mana Diriku Dulu?

Mana Diriku Dulu?


Bukan title, bukan umur, juga bukan kekayaan yang membuatku bangga. Aku lebih bangga dengan diriku beberapa tahun yang lalu. Ketika aku masih lulusan SMA dan bekerja sebagai pelayan toko. Berangkat kerja pagi-pagi, pulang malam-malam, dan gaji pas-pasan. Namun aku tak pernah mengeluhkan itu, aku enjoy saja menjalani semuanya. Mengepel lantai, mengangkat barang-barang digudang, maupun melayani konsumen di toko. Aku merasa tangguh kala itu, bukan seperti sekarang. Aku selalu banyak berpikir, semua title dan pengalaman baru ku justru menjadi benteng tersendiri bagi diriku.

Hari ini, 16 November 2012 adalah dua setengah tahun setelah aku menggapai gelar sarjana. Dan selama dua setengah tahun ini aku hanya menjadi pengangguran, kesana-kemari menjajakan ijazahku belum pernah memperoleh hasil. Tiap kali ada kesempatan pasti ada halangan juga. Semua seperti terbentengi oleh sesuatu dalam diriku yang membuatku susah menganyunkan kaki.

Kini aku dalam perjalanan kesuatu tujuan, aku coba gapai sesuatu yang imposible buatku. Sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan dalam benak ku. Sulit tapi aku harus mampu, jika tidak mau jadi apa diriku ini. Aku benar bangga dengan diriku dulu, semua aku hajar, beda dengan kini aku seperti pecundang yang menanti keajaiban datang, berharap sesuatu yang manis.

Dalam kegelisahan hidupku, aku dipertemukan sesosok baru. Yang awalnya mampu menggugah semangatku. Meski kini aku merasa dipersimpangan jalan. Aku ke kiri mati, aku kekanan pun mati. Seolah tak ada pilihan lain bahwa aku harus menerima kematianku, kematian dalam arti perasaan mendalamku yang harus teradu oleh masa lalunya atau kehilangan dirinya. Aku benar tak bergerak, ingin meronta berteriak meminta tolong, tapi aku tak tahu harus berbicara pada siapa. Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, karena jika memang ini kehendakNya tentu tak seharusnya ada yang disalahkan.

Esok seolah tergambar nyata dalam pikiranku, hingga membuatku takut, membuatku terus berpikir, sedang aku harus terus berjalan. Aku hadapai sekarang atau besok tetap saja aku harus menghadapinya. Meski ini seperti tak adil, aku terjebak dalam kolam, ketika semuanya terlanjur basah aku baru memperoleh pilihan bahwa aku boleh memilih kering jika tidak suka dengan basah, tapi lihatlah aku tlah basah kuyup terjebak dalam kolam yang kau buat.

Aku selalu tersudut oleh pilihan-pilihan yang mereka berikan. Dan gambaran-gambaran menakutkan yang harus kuhadapi kelak. Ini benar membuatku setengah gila, rasa yang lama tak aku rasakan. Jika memang aku hanya harus terus berjalan, ketika halangan menghadang apa aku harus berjalan berbalik karena yang terpenting adalah berjalan dan terus berjalan?

Dalam gelisah, dalam kesendirian, dalam kesunyian malam, kau selalu hadir dalam pikiranku. Seperti bintang yang selalu menghiasi langit, meski kadang ia tak terlihat, yang tak terlihat bukan berarti tak ada kan?

Aku tidak akan menyerah, oh God forgive me when I whine.

Categories: Cerita, memory
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: