Home > Uncategorized > Mimpi Itu Kapan Terbeli

Mimpi Itu Kapan Terbeli


image

Aku seorang sarjana komputer lulusan 2010. Aku orang biasa yang tidak memiliki nilai plus. Aku hanya sarjana-sarjanaan yang minim ilmu. Mungkin karena aku salah memilih jurusan. Kala itu aku hanya berusaha untuk dapat lulus, meski aku telah sadar ini bukan bidangku, bukan keahlianku.

Tiga tahun sudah kala itu aku menganggur, you know what? Its so difficult for me. Entah berapa lamaran yang telah aku ajukan tak kunjung mendapat hasil. Yah karena pasti aku tidak mau mengambil kerjaan yang di luar ke mampuanku. Aku bukan tipe orang yang biasa bilang “bisa” padahal “tidak bisa”.

2013 setelah tiga tahun aku tak jelas arah. Aku putuskan belajar bahasa korea di salah satu tempat kursus ternama di Jogja. Dengan niatan aku segera bisa ke korea untuk bekerja sehingga bisa punya modal sendiri untuk membuka usaha sendiri. Sarjana yang bingung, berniat menjadi TKI di negara orang lain negara yang jauh berbeda dengan negara sendiri.

Aku memiliki beberapa teman korea, asli korea pastinya. Aku sering chat bareng mereka via kakaotalk. Yah just sharing everything, tentang keseharian atau budaya kita masing-masing. Ternyata mereka asik juga ramah kok. Hanya saja aku gagal untuk berangkat ke korea, yah i lost my exam.

And now, i was merried… dengan teman kursus bahasa koreaku. Kami berdua sama-sama gagal test kerja korea. Dan sekarang menjadi sangat sulit bagi kami untuk meraih impian itu lagi, yah karena kita telah berkeluarga sekarang. Bersamaan dengan itu juga kami kehilangan kakak kami tercinta yang sedang bekerja di korea. Dia meninggal karena kecelakaan kerja. Ternyata kalau memang belum saatnya bagi kita untuk naik kelas ya ada saja cobaan itu.

Detik ini Minggu 4 Mei 2014 pukul 17:32 waktu setempat. Aku masih saja seperti 4 tahun yang lalu. Berjalan dan terus berjalan namun rasanya masih di tempat yang sama. Kerjaan yang ku nanti tak kunjung datang. Menulis sambil mendengarkan musik seperti ini satu-satunya cara bagiku untuk meluapkan semuanya. Karena tak pernah ada yang mengerti betapa sulit aku berjalan sampai disini. Bahkan di saat aku telah memerdekakan budak, tapi aku pun belum saatnya di merdekakan. Meski dalam hati aku selalu yakin akan ada waktunya aku di merdekakan oleh Alloh. Aamiin

Saat ini aku boleh saja di bawah, aku yakin suatu saat aku yang akan di atas dan pastinya dengan skenario yang berbeda.

Life outside is not easy, if not me who will be solfing?

@tasirmugissae

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: